Babad Diponegoro L.Or. 6547A-D

KITLV 3953 - Kassian Céphas - Wayang beber performance of the desa Gelaran at the home of Dr. Wahidin Soedirohoesoedo at Yogyakarta in the middle Dr. GAJ Hazeu - Around 1902.

Hazeu’s Copy


Babad Diponegoro L.Or 6547 Hazeu

English

LOr 6547 a-d is a four-volume copy comprising 43 cantos (408 pp., 401 pp., 372 pp. and 429 pp.) of the Babad Dipanagara, Manado version, now in the Leiden University Library (UBL). This copy belonged to Dr. Godard Arend Johannes Hazeu (born Amsterdam 28 August 1870-died Wassenaar, 2 December 1929), Adviser for Native Affairs (Adviseur voor Inlandsch Zaken, in office, 1904-1912, 1916-1920) in the Netherlands Indies Government, Directeur van Onderwijs en Eerediensten (Director of Education and Religion) (1911-16) and later Professor of Javanese at Leiden University (1921-28). From 1922-27, he was the doctoral supervisor of Professor C.C.Berg (1899-1990), who later advised the nationalist leader and public intellectual, Mr (Meester-in-de-rechten) Muhammad Yamin (1903-62), on the revision of his biography of Prince Diponegoro originally published in June 1945 during the Japanese military occupation (1942-45). Hazeu’s copy was bequeathed to Leiden UB after his death on 2 December 1929.

It is a copy of the autobiographical chronicle (babad) dictated by the Prince himself in exile in Manado between 20 May 1831 and 3 February 1832 to an amanuensis, who penned the original text in pégon (Javanese written in Arabic script). This amanuensis was either the religious scholar (ulama), Satruno (Wongsotruno), or the Dutch spy and former Demang (district tax collector) of Grabag in northern Kedu, Tirtodrono (Tirtodirono), most likely the latter. Both Satruno and Tirtodrono were part of Kiai Mojo’s entourage in Tonsea Lama (post-1831, in Tondano), Minahassa (Sulawesi Utara), and were transferred for a time to accompany Diponegoro in Fort Nieuw Amsterdam in Manado (1830-33), assisting him with his religious duties during the fasting month of February-March 1831 (in the case of Satruno) and with his writing and correspondence (in the case of Tirtodrono). Both knew how to write in pégon.

In 1,150 folio pages in the original MS., Diponegoro tells the history of Java from the fall of Majapahit (circa 1527) to the Peace of Giyanti (13 February 1755), one third of the work, and the period of his own life and times from his birth in the Yogyakarta keraton on 11 November 1785 to his exile voyage to Manado on 3 May-12 June 1830, which constitutes the remaining two thirds of the work. No original manuscript of this babad is now extant, but in 1866-67 the Dutch scholar, Abraham Benjamin Cohen Stuart (1825-1876), tasked his scribe, Raden Abdul Samsi, with making a series of copies of the manuscript owned by Diponegoro’s descendants who were living in Makassar. This family manuscript may well have been the original, as it was written in a script which was widely used amongst the more self-consciously religious circles in Java and favoured by Diponegoro himself, who, as an autodidact, was only literate in aksara Jawa and wrote in a very careless hand. But there is no means of checking its authenticity as it has now apparently been lost. The first copy made by Cohen Stuart, also in pégon script (BG 282), and various other copies in Javanese script are, however, in the collection of the Perpustakaan Nasional (Indonesian National Library) in Jakarta. It is from one of these copies, probably BG283 (an aksara Jawa version) that Hazeu’s four-volume manuscript derrives. Unfortunately, the pégon copy, which is probably the most accurate for purposes of historical research, has been allowed to deteriorate so badly – the iron from the ink used for the copying has bitten through the Dutch Government paper used for the copy in many places – that many pages are now illegible and its use for students is strictly limited.

Indonesia

LOr 6547 a-d adalah empat jilid salinan Babad Diponegoro, versi Menado, yang terdiri dari 43 kanto (408 hal., 401 hal., 372 hal., dan 429 hal.), yang kini disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden (UBL). Salinan ini sebelumnya dimiliki Dr. Godard Arend Johannes Hazeu (lahir di Amsterdam 28 Agustus 1870-wafat Wassenaar, 2 Desember 1929), Penasihat Urusan Pribumi (Adviseur voor Inlandsch Zaken, menjabat, 1904-1912, 1916-1920) di Pemerintahan Hindia Belanda, Direktur Pendidikan dan Agama (Directeur van Onderwijs en Eerediensten, 1911-16) dan kemudian menjadi Profesor Bahasa Jawa di Universitas Leiden (1921-28). Dari 1922-27, dia menjadi dosen pengawas S3 Professor C.C.Berg (1900-1990), yang kemudian menjadi penasihat pemimpin nasionalis dan cendekiawan rakyat, Mr. (Meester-in-de-rechten) Muhammad Yamin (1903-62), mengenai revisi biografi Pangeran Diponegoro karyanya yang pertama diterbitkan pada bulan Juni 1945 pada masa penjajahan Jepang (1942-45). Salinan Hazeu ini kemudian diwariskan kepada Leiden UB setelah ia wafat pada tanggal 2 Desember 1929.

Ini adalah sebuah salinan dari babad otobiografi yang didikte oleh sang Pangeran sendiri dalam pengasingannya di Menado antara 20 Mei 1831 and 3 Februari 1832 kepada seorang juru tulis, yang mencatat tulisan aslinya dalam huruf pégon (bahasa Jawa yang ditulis dalam huruf Arab). Juru tulis ini adalah seorang ulama Satruno (Wongsotruno), atau seorang mata-mata Belanda dan mantan Demang (tukang pajak daerah) dari Grabag di sebelah utara Kedu, Tirtodrono (Tirtodirono), kemungkinan yang terakhir disebut. Satruno dan Tirtodrono merupakan anggota rombongan Kiai Mojo di Tonsea Lama (pasca-1831, di Tondano), Minahassa (Sulawesi Utara), dan ditugaskan untuk sementara waktu untuk menemani Diponegoro di Fort Nieuw Amsterdam di Menado (1830-33), untuk membantu tugas-tugas keagamaan sang pangeran pada bulan puasa Februari-Maret 1831 (untuk Satruno) dan urusan tulis-menulis dan korespondensi (untuk Tirtodrono). Keduanya bisa menulis dalam huruf pégon.

Dalam 1.150 halaman folio dalam naskah aslinya, Diponegoro bercerita mengenai sejarah Jawa dari jathunya Majapahit (sekitar 1527) hingga Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755), yang mencakup sepertiga karya ini, dan periode hidup dan zamannya sejak kelahirannya di keraton Yogyakarta pada 11 November 1785 hingga perjalanannya ke pengasingan di Menado pada 3 Mei-12 Juni 1830, yang tertuang di dua pertiga karya ini. Tidak ada naskah asli babad ini yang masih ada hingga sekarang, namun pada 1866-67 seorang peneliti Belanda, Abraham Benjamin Cohen Stuart (1825-1876), menugaskan juru tulisnya, Raden Abdul Samsi, untuk membuat beberapa salinan naskah yang dimiliki keturunan Diponegoro yang tinggal di Makassar. Naskah yang dimiliki keluarga Diponegoro ini kemungkinan adalah naskah yang asli, karena ditulis dalam aksara yang umum digunakan di lingkungan Jawa yang lebih religi dan disukai oleh Diponegoro sendiri, yang mana, sebagai seorang autodidak, hanya bisa membaca aksara Jawa dan tulisan tangannya jelek. Namun keaslian naskah ini tidak bisa diperiksa karena naskah asli tersebut kini sudah hilang. Namun, salinan pertama yang dibuat oleh Cohen Stuart, juga dalam aksara pégon (BG 282), dan berbagai salinan lainnya dalam huruf Jawa, berada di koleksi Perpustakaan Nasional di Jakarta. Dari salah satu salinan inilah, kemungkinan BG283 (versi aksara Jawa), salinan naskah Hazeu yang berjumlah empat jilid ini disalin. Sayangnya, salinan berhuruf pégon tersebut, yang kemungkinan adalah salinan yang paling akurat untuk tujuan penelitian sejarah, telah dibiarkan meluruh begitu parah — besi yang digunakan untuk tintanya telah merusak kertas Pemerintah Belanda yang dipakai untuk menyalin di berbagai tempat— sehingga banyak halamannya tidak bisa dibaca lagi dan kegunaannya bagi para peneliti sangatlah terbatas.

KITLV 3953 – Kassian Céphas – Wayang beber performance of the desa Gelaran at the home of Dr. Wahidin Soedirohoesoedo at Yogyakarta in the middle Dr. GAJ Hazeu – Around 1902.