Home » Tololiu Hermanus Willem Dotulong

Tololiu Hermanus Willem Dotulong

Major H.W. Dotulong inset in Raden Saleh's Arrest of Pangeran Diponegoro
Tololiu Hermanus Willem Dotulong

by Peter Carey

English

Indonesia

Tololiu (distinguished leader) Hermanus Willem Dotulong (1795-1888) was a legend in his time and played a significant role in the fighting at the end of the Java War. As the senior commander (Groot Majoor) of the 1,421-strong Minahasan (Manadonese) contingent of hulptroepen (auxiliaries)—known in Manado as tulungan—sent to help the Dutch triumph over Diponegoro, he participated in the key battle of Siluk (17 September 1829) when the prince was defeated and forced back across the Kali Progo. His troops, which were attached to Dutch flying columns, then relentlessly pursued Diponegoro and his top commanders through the hills which separated Kulon Progo from Bagelen. In a bloody operation on the night of 21 September 1829, Dotulong’s troops caught and beheaded Diponegoro’s uncle and chief strategist, Pangeran Ngabehi (Joyokusumo I) (c. 1788-1826), and his two sons (Pangeran Joyokusumo II and Raden Mas Atmokusumo) at Sengir, now a Pedukuhan of the Desa Kalirejo, in Kecamatan Kokap. Just over a month later, on 11 November 1829, Diponegoro’s birthday, in the Gowong Hills in Southern Kedu, Minahasan forces were involved in another mountain ambush when the prince himself was nearly captured—he had to leap from his horse into a nearby ravine and hide from the searching Minahasans under tall pampas grass (glagah). After three months on the run through Bagelen and western Banyumas with three Dutch flying columns in hot pursuit, Diponegoro was finally brought to open peace negotiations and came to Magelang where Dotulong and his Minahasans were on hand to witness the Java War leader’s treacherous capture on 28 March 1830, the Groot Majoor’s presence being immortalised in the Javanese-Arab painter, Raden Saleh Syarif Bustaman’s (1811-80), famous painting (1857).

Tololiu (pemimpin terhormat) Hermanus Willem Dotulong (1795-1888) adalah seorang legenda pada masanya dan memegang peran penting dalam medan pertempuran di akhir Perang Jawa. Sebagai komandan senior (Groot Majoor) yang memimpin 1.421 pasukan Minahasa (Manado) kontingen hulptroepen (pasukan bala bantuan)–di Manado dikenal sebagai tulungan—yang dikirim untuk membantu Belanda mengalahkan Diponegoro, ia berpartisipasi dalam sebuah pertempuran penting di Siluk (17 September 1829) ketika sang pangeran dikalahkan dan dipukul mundur menyeberang Kali Progo. Pasukannya, yang ditugaskan sebagai bagian dari pasukan gerak cepat Belanda, kemudian tanpa henti mengejar Diponegoro dan para panglima tingginya melalui perbukitan antara Kulon Progo dari Bagelen. Dalam sebuah operasi yang bersimbah berdarah pada malam 21 September 1829, pasukan Dotulong menangkap dan memenggal paman dan ahli strategi Diponegoro, Pangeran Ngabehi (Joyokusumo I) (sekitar 1788-1826), dan kedua putranya (Pangeran Joyokusumo II dan Raden Mas Atmokusumo) di Sengir, yang sekarang menjadi Pedukuhan di Desa Kalirejo, Kecamatan Kokap. Hampir sebulan kemudian, pada 11 November 1829, pada hari ulang tahun Diponegoro, di Perbukitan Gowong di Kedu Selatan, pasukan Minahasa tersebut kembali terlibat dalam sebuah penyergapan di pegunungan ketika sang pangeran sendiri hampir ditangkap — dia harus melompat dari kudanya ke sebuah jurang di dekat situ dan bersembunyi dari orang-orang Minahasa yang mencarinya di bawah rumput pampas (glagah) yang tinggi. Setelah tiga bulan dalam pelarian menempuh daerah Bagelen dan Banyumas barat sambil dikejar oleh tiga kelompok pasukan gerak cepat Belanda, Diponegoro akhirnya berhasil diajak untuk memulai negosiasi perdamaian dan datang ke Magelang di mana Dotulong dan orang-orang Minahasa yang berada dibawah pimpinannya hadir untuk menyaksikan penangkapan pemimpin Perang Jawa tersebut dengan cara yang khianat pada tanggal 28 Maret 1830, kehadiran sang Groot Majoor diabadikan dalam sebuah lukisan terkenal (buatan 1857) karya pelukis keturunan Jawa-Arab Raden Saleh Syarif Bustaman (1811-1880).

Major H.W. Dotulong inset in Raden Saleh's Arrest of Pangeran Diponegoro
Major H.W. Dotulong inset in Raden Saleh’s Arrest of Pangeran Diponegoro

Born in Kema district in northern Minahasa on 12 January 1795, Dotulong saw his first fighting at the age of fourteen in 1808-1809 during the Tondano War (Perang Tondano), when he helped his uncle, the local District Head (Hukum Besar/Kapala Walak) of Tonsea, face down a rebellion occasioned by Marshal Herman Willem Daendels’ harsh recruitment drive to enlarge his motley colonial army with Minahasan hulptroepen (native auxiliaries) against the British. It was said that Dotulong’s Christian names, Hermanus Willem, were inspired by the Thundering Marshal himself. Appointments as Sub-District (Hukum Kedua) (1815) and Kapala Walak (1823) of Sonder to the south of Manado soon followed, and when Governor-General G.A.G.Ph. van der Capellen (in office, 1816-26) visited Minahasa on his October 1824 tour of the Moluccas (Maluku), Dotulong was singled out for special praise for his great energy and skill as a local administrator. Given his reputation as an intensely loyal supporter of Dutch rule, it was no surprise that he should be the first to respond to a new request for hulptroepen to assist the Dutch side during the Java War. Since he raised the largest troop contingent amongst the ten other Minahasan District Heads who sent local forces, this guaranteed him command of the whole Minahasan expedition to Java, which sailed on a Dutch frigate and naval yacht, the Sirius, on 23 March 1829, arriving in Cilincing in mid-April, where a pitalasan (tomb/memorial) with his name could still be found near the grave of the legendary Kapten Jonker.

Lahir di Kabupaten Kema di Minahasa Utara pada 12 Januari 1795, Dotulong terlibat dalam pertempuran pertamanya pada usia empat belas tahun pada 1808-1809 pada waktu pecahnya Perang Tondano, di mana ia membantu pamannya, seorang Kepala Distrik (Hukum Besar/Kapala Walak) dari Tonsea, menghadapi pemberontakan yang disebabkan oleh perekrutan dengan kekerasan yang dilakukan Marsekal Herman Willem Daendels untuk memperkuat tentara penjajahannya yang anggotanya beraneka ragam dengan hulptroepen Minahasa (bala bantuan penduduk setempat) melawan Inggris. Konon dikatakan bahwa nama Kristen Dotulong, Hermanus Willem, terinspirasi oleh sang Marsekal Guntur itu sendiri. Pengangkatan sebagai Kepala Distrik (Hukum Kedua) (1815) dan Kapala Walak (1823) di Sonder yang terletak di sebelah selatan Manado pun tidak lama menyusul, dan ketika Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. van der Capellen (menjabat, 1816-26) mengunjungi Minahasa pada bulan Oktober 1824 sebagai bagian tur keliling Malukunya, Dotulong pun ditunjuk untuk mendapat pujian khusus karena energinya yang besar dan keterampilannya sebagai seorang pejabat pemerintah setempat. Mengingat reputasinya sebagai pendukung setia pemerintahan Belanda, tidak mengherankan kalau ia pun menjadi orang pertama yang menjawab sebuah permintaan baru untuk membentuk hulptroepen dalam membantu pihak Belanda pada masa Perang Jawa. Karena dia berhasil membentuk kontingen pasukan terbesar diantara sepuluh Bupati Minahasa lainnya yang mengirim pasukan dari tempat mereka masing-masing, hal ini membuat dia diberi tumpuk kepemimpinan atas keseluruhan pasukan Minahasa yang datang ke Jawa, yang berlayar di atas kapal fregat dan kapal pesiar angkatan laut Belanda, Sirius, pada 23 Maret 1829, yang berlabuh di Cilincing pada pertengahan April, di mana sebuah pitalasan (makam/peringatan) yang bertorehkan namanya masih dapat ditemukan di dekat makam Kapten Jonker yang legendaris.

Amongst Dotulong’s deputy commanders were names which would resonate into modern Indonesian history. Amongst these was the Sub-District Head of Tondano, First Lieutenant Johannes Kawilarang—great-grandfather of the famous TNI commander and freedom fighter, Colonel Alexander Evert (Alex) Kawilarang (1920-2000), founder of Kesko TT (Kesatuan Komando Tentara Territorium III/Siliwangi) which would become the Indonesian special forces unit, Kopassus.

Di antara para wakil komandan Dotulong adalah nama-nama yang akan bergema dalam sejarah Indonesia modern. Di antaranya Camat Tondano, Letnan Satu Johannes Kawilarang—kakek buyut komandan TNI dan pejuang kemerdekaan yang terkenal, Kolonel Alexander Evert (Alex) Kawilarang (1920-2000), pendiri Kesko TT (Kesatuan Komando Tentara Territorium III/Siliwangi) yang kemudian menjadi satuan pasukan khusus Indonesia, Kopassus.

Benjamin Thomas Sigar (1789-1879) Inset in Nicolaas Pieneman's The Submission of Prince Dipo Negoro to General De Kock
Benjamin Thomas Sigar (1789-1879) Inset in Nicolaas Pieneman’s The Submission of Prince Dipo Negoro to General De Kock

Another was Captain Benjamin Thomas Sigar alias Tawajlin Sigar (1789-1879), subsequently District Head of Langowan to the south of Lake Tondano, who would also be immortalised in a painting of the capture of Diponegoro at Magelang, this time by the Dutch painter Nicolaas Pieneman (1809-60). Standing ramrod straight, in Pieneman’s painting, the gallant Captain gazes with his back half-turned to the viewer, looking intently towards the captured prince and his followers. His grandson, Major Phillip Sigar, the Langowan District Head in the interwar years, would himself have a distinguished grandson who would also serve, like Alex Kawilarang, as a Special Forces (Kopassus) Commander (1995-98), Lieutenant-General Prabowo Subianto (born 1951), since 2019 the current Indonesian Defense Minister.

Satu orang lagi adalah Kapten Benyamin Thomas Sigar alias Tawajlin Sigar (1789-1879), selanjutnya menjadi Kepala Distrik Langowan di sebelah selatan Danau Tondano, yang juga dikemudian hari diabadikan dalam sebuah lukisan penangkapan Diponegoro di Magelang, kali ini oleh pelukis Belanda Nicolaas Pieneman (1809-60). Berdiri tegak lurus, dalam lukisan Pieneman, Kapten yang gagah ini menatap ke depan sambil menyampingi penonton, menatap tajam ke arah sang pangeran yang ditangkap dan para pengikutnya. Cucunya, Mayor Phillip Sigar, Kepala Distrik Langowan di zaman antar-peperangan, juga akan memiliki seorang cucu terkemuka yang juga akan mengabdi, seperti Alex Kawilarang, sebagai Panglima Kopassus (1995-98), Letnan Jenderal Prabowo Subianto (lahir 1951), sejak 2019 Menteri Pertahanan RI saat ini.

1 thought on “Tololiu Hermanus Willem Dotulong”

  1. Pingback: The Arrest of Pangeran Diponegoro - Feureau