Buku Kedung Kebo

Buku Kedung Kebo Athenaeum

English

In 1842/43 the first bupati of Purworejo, Raden Adipati Cokronegoro I (1779-1862; in office 1831-56), with the help of one of Prince Diponegoro’s former field commanders in eastern Bagelen, Basah Kerta Pengalasan (c. 1795-post March 1866), composed a chronicle on the Java War and its antecedents from the vantage point of Cokronegoro himself.

This chronicle is known as the​ Buku Kedung Kebo (Chronicle of the Buffaloes’ Watering Hole) after the site of the Dutch Benteng on the eastern bank of the Kali Bagawanta (river of the Begawans so named after the main holy men who lived along its upper reaches in the Hindu-Buddhist era).

Indonesia

Pada tahun 1842/43 bupati Purworejo yang pertama, Raden Adipati Cokronegoro I (1779-1862; menjabat 1831-56), dengan bantuan salah seorang mantan komandan lapangan Pangeran Diponegoro di Bagelen timur, Basah Kerta Pengalasan (sekitar 1795-pasca Maret 1866), membuat sebuah babad mengenai Perang Jawa dan latar belakang perang tersebut dari sudut pandang Cokronegoro sendiri.

Babad ini dikenal dengan nama Buku Kedung Kebo (Kisah Kubangan Kerbau) yang diambil dari nama Benteng Belanda yang terletak di sebelah timur tepi sungai Kali Bogowonto (sungai kaum Begawan yang namanya diambil dari orang-orang suci yang tinggal di sebelah atas pada masa Hindu-Buddha)

RAA. Cokronegoro I, first Bupati of Purworejo.
RAA. Cokronegoro I, first Bupati of Purworejo.

Cokronegoro prepared a number of de luxe editions/copies of this manuscript which contained 50 cantos and 623 folio pages (on Dutch import paper) bound in buffalo hide and with colored colophons which he gave to visiting Dutch and German dignitaries, amongst them Governor-General Jan Jacob Rochussen (1797-1871; in office, 1845-51), and Albertus Jacobus Duymaer van Twist (1809-1887; in office, 1851-56), and the commander of the Dutch Indies army, Prince Bernhard of Saxe-Weimar-Eisenach (1792-1862; in office 1849-52).

Cokronegoro mempersiapkan beberapa edisi/salinan naskah ini yang mewah yang mengandung 50 kanto dan 623 halaman folio (yang ditulis menggunakan kertas Belanda impor) yang dijilid menggunakan kulit Kerbau dan berhiaskan kolofon berwarna yang ia berikan kepada pejabat Belanda dan Jerman yang berkunjung, diantaranya adalah Gubernur-Jenderal Jan Jacob Rochussen (1797-1871; menjabat, 1845-51), dan Albertus Jacobus Duymaer van Twist (1809-1887; menjabat, 1851-56), dan komandan pasukan Hindia Belanda, Pangeran Bernhard dari Saxe-Weimar-Eisenach (1792-1862; menjabat 1849-52).

DN giving instruction to Ki Mopid and Ki Joyomustopo-KITLV Or 13 (Buku Kedung Kebo) - f.82b
DN giving instruction to Ki Mopid and Ki Joyomustopo-KITLV Or 13 (Buku Kedung Kebo) – f.82b

The oldest copy of Buku Kedung Kebo is L.Or.2163 which is kept at the Leiden University Library. This manuscript was possibly started in 1842 and was completed in the following year. However, the candrasengkala (chronogram) and dates noted in the introduction of the book are not very clear.

 

Naskah Buku Kedung Kebo yang paling tua adalah L.Or.2163 yang disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Naskah ini diperkirakan mulai dibuat pada tahun 1842 dan selesai pada tahun berikutnya, walaupun demikian, candrasengkala serta tanggal-tanggal yang dicantumkan dalam kata pengantar buku tersebut tidak begitu jelas.

Portrait of Jan Jacob Rochussen (1797-1871), Governor-General of the Dutch East Indies from 1845 to 1851.
Portrait of Jan Jacob Rochussen (1797-1871), Governor-General of the Dutch East Indies from 1845 to 1851.

This copy of the Buku Kedung Kebo was presented to Governor General J.J. Rochussen (in office, 1845-1851), when he was on his first trip as Governor-General to south-central Java in 1847. Upon his return to the Netherlands, he gave the manuscript to his friend, the former Minister of the Colonies, Jean Chrétien Baud (1789-1859, in office, 1840-1849), who in 1851 had just established the Koninklijk Institut voor de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië (KITLV/Royal Institute for the Languages, Anthropology and Ethnography of the Netherlands Indies/now Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies) in Delft. Although now merged with the Leiden University Library in 2014, the Institute’s manuscript holdings on Indonesia remain one of the richest collections on Indonesian studies in the world.

Salinan Buku Kedung Kebo ini dipersembahkan kepada Gubernur-Jenderal J.J.Rochussen (menjabat 1845-1851), ketika ia melakukan perjalanan dinas perdana ke Jawa tengah bagian selatan pada 1847. Setelah ia pulang ke Negeri Belanda di penghujung 1851, naskah tersebut diberikan kepada temannya, mantan Menteri Jajahan, Jean Chrétien Baud (1789-1859, menjabat 1840-1849), yang sebelumnya pada 1851 mendirikan Koninklijk Institut voor de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië (KITLV/Lembaga Kerajaan Belanda untuk Kajian Bahasa, Antropologi, dan Etnografi Hindia Belanda) di Delft. Inilah lembaga yang paling penting di dunia mengenai penelitian tentang Indonesia.

Portrait of Jean Chrétien Baud (1835) by Raden Saleh
Portrait of Jean Chrétien Baud (1835) by Raden Saleh

Baud remained the first chair (voorzitter) of the KITLV for the rest of his life (1851-1859). Once he had received the Buku Kedung Kebo manuscript from Rochussen in 1851, he immediately sought the help of the leading Dutch expert in Javanese language and literature, Professor Taco Roorda (1801-1874), then teaching at the Rijksopleiding voor Ingenieurs en Ambtenaren (State Training College for Engineering and Civil Servants [destined for careers in the colonial bureaucracy in the Netherlands Indies/ Indonesia]) in Delft (1842-1864), to make a Dutch translation. As Roorda was unable to complete the task on his own, he sought the help of the experienced Javanese language translator in Surakarta, C.F. Winter Senior (in office, 1820-1859). Winter accepted the assignment with extreme reluctance as he deemed that Buku was not a text of high literary merit in modern Javanese. However, after many delays, the first 200 pages translation of the Buku Kedung Kebo text originally presented to Rochussen in 1847 was finally published in the KITLV journal, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde in 1860 (Roorda 1860).

Selama sisa hidupnya, Baud menjabat sebagai ketua (voorzitter) perdana lembaga tersebut (1851-1859). Begitu ia menerima naskah Buku Kedung Kebo dari Rochussen pada tahun 1851, Ia langsung meminta ahli sastra dan bahasa Jawa, Taco Roorda (1801-1874), yang pada saat itu mengajar sebagai profesor di Rijksopleiding voor Ingenieurs en Ambtenaren (Sekolah Tinggi Negeri untuk Insinyur dan Pejabat Sipil [yang akan ditugaskan di Indonesia]) di Delft (1842-1864), untuk membuat sebuah terjemahan. Namun Roorda tidak sanggup melakukan pekerjaan tersebut dengan sendirian. Ia meminta bantuan seorang penerjemah bahasa Jawa di Surakarta, C.F. Winter Senior (bertugas 1820-1859). Winter menerima tugas ini dengan separuh hati karena ia menganggap buku ini tidak memiliki nilai sastra yang tinggi dalam bahasa Jawa modern. Namun setelah berkali-kali tertunda, terjemahan dari 200 halaman pertama Buku Kedung Kebo ini berhasil diterbitkan di jurnal ilmiah KITLV, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde (Jurnal Ilmu Budaya dan Ilmu Sosial [di Asia Tenggara]) pada 1860 (Roorda 1860).

Universitaire Bibliotheken Leiden (UBL) Leiden University Library OHS L.Or. 2163 Babad Kedung Kebo
Universitaire Bibliotheken Leiden (UBL) Leiden University Library OHS L.Or. 2163 Babad Kedung Kebo.

Leather cover made with buffalo skin of Buku Kedung Kebo (L.Or. 2163), which is the oldest manuscript at Leiden University Library, depicting Bima and Pandita Durna representing respectively Raden Adipati Cokronegoro I and his superior during the Java War, Colonel Jan Baptist Cleerens (1785-1850).

Sampul muka yang terbuat dari kulit Buku Kedung Kebo (L.Or. 2163), yang merupakan naskah paling tua di Perpustakaan Universitas Leiden, yang menggambarkan Bima dan Pandita Durna yang melambangkan KRA Cokronegoro I dan atasannya selama Perang Jawa, Kolonel Jan Baptist Cleerens (1785-1850).

The present digitized set includes

Set digital ini terdiri dari

1

Buku Kedung Kebo
Dr. Th.G.Th. Pigeaud

The Dutch lexicographer, Dr Th.G.Th. Pigeaud’s (1899-1988), romanized version (cantos 14-50, pp.161-623) of LOr 2163, the Leiden University Library (UBL) manuscript copy of the Buku originally presented to Rochussen by Cokronegoro I in 1847 during his first tour of Java. This romanization was made by Pigeaud’s scribe, Raden Mandrasastra, in Yogyakarta in 1933, a copy of which was given to Peter Carey by Prof Sartono Kartodirjo (1921-2007) when PC was researching his Oxford doctoral thesis on ‘Prince Diponegoro and the Making of the Java War (1825-30)’ in 1971-73 in Yogyakarta. The summary and notes at the beginning were added by PC before the typescript manuscript was bound, as were the romanised versions of the four cantos (10-14) from the KITLV Or 13 (pp.103-63) which join the first nine cantos studied by Forrester for his 1971 ANU MA thesis and the beginning of Pigeaud’s 1933 transliteration of LOr 2163 which starts at Canto 14 (p.161 in the L.Or MS). Hard copies of this romanized version of Cantos 10-50 are now in Leiden University Library, The library of the Australian National University (ANU), and Dinkominfo office in Purworejo.

Kanto 14-50 milik ahli leksikografi (ambtenaar voor de beoefening der Indische talen) Belanda, Dr. Th.G.Th. Pigeaud (1899-1988; menjabat 1924-42), dari LOr 2163 (hlm.161-623), salinan naskah dari Buku Kedung Kebo milik Perpustakaan Universitas Leiden (UBL) yang diberikan kepada Rochussen oleh Cokronegoro I pada tahun 1847 dalam kunjungan pertamanya ke Jawa. Romanisasi ini dibuat oleh juru tulis Pigeaud, Raden Mandrasastra, di Yogyakarta pada tahun 1933, sebuah salinan lagi diberikan kepada Peter Carey oleh Prof. Sartono Kartodirjo (1921-2007) ketika Peter Carey sedang melakukan penelitian untuk tesis doktoralnya dengan judul ‘Prince Diponegoro and the Making of the Java War (1825-30)’ pada tahun 1971-73 di Yogyakarta. Rangkuman dan catatan yang tertera di bagian depan telah ditambahkan oleh Peter Carey sebelum naskah yang diketik ini dijilid, juga termasuk di dalamnya adalah versi romanisasi keempat kanto (10-14) dari KITLV L.Or. 13 (hal. 103-63) yang bersama sembilan kanto pertama yang dipelajari oleh Forrester untuk tesis MA di ANU dan bagian awal dari transliterasi Pigeaud yang dibuat tahun 1933 yang di mulai dari Kanto 14 (hal.161 di naskah L.Or). Salinan versi romanisasi ini kini berada di Perpustakaan Universitas Leiden (UBL), perpustakaan Australian National University (ANU), dan kantor Dinkominfo di Purworejo.

2

Buku Kedung Kebo
Geoffrey Forrester

Geoffrey Forrester's Thesis at Australian National University
Geoffrey Forrester’s Thesis at Australian National University

The second part of this digitized set is the late Australian diplomat, Geoffrey Forrester’s (1947-2005), 1971 ANU Masters thesis entitled ‘The Java War: Some Javanese Aspects’, which was successfully examined by Prof CC Berg (Leiden), and deals with the first nine cantos of the Buku Kedung Kebo.

Bagian kedua set digital ini adalah tesis Master ANU 1971 karya almarhum diplomat Australia, Geoffrey Forrester (1947-2005), yang berjudul ‘The Java War: Some Javanese Aspects, including an excerpt from the Babad Dipanegara of the bupati of Purwaredja’, yang berhasil diuji oleh Prof CC Berg (Leiden), dan membahas tentang sembilan kanto pertama Buku Kedung Kebo ini.

3

Buku Kedung Kebo
GG Duymaer van Twist

Buku Kedung Kebo GG Duymaer van Twist
Buku Kedung Kebo GG Duymaer van Twist at the Athenaeum Library

The third part of this digitized set is the copy of the original manuscript of the Buku Kedung Kebo presented to GG Duymaer van Twist in 1852. This was bequeathed by Van Twist to the Athenaeum Library (DvT JL KL), in his native Deventer in 1887 after his death. The Athenaeum Library is now part of the Stadsbibliotheek Deventer. This is a copy of the original given to Rochussen in 1847, and can still be consulted in Deventer.

Bagian ketiga set digital ini adalah salinan naskah asli Buku Kedung Kebo yang dipersembahkan kepada GG Duymaer van Twist pada tahun 1852. Salinan ini diwariskan oleh Van Twist kepada Perpustakaan Athenaeum (DvT JL KL), di kota asalnya Deventer pada tahun 1887 setelah ia wafat. Perpustakaan Athenaeum kini telah menjadi bagian dari Stadsbibliotheek Deventer. Naskah ini adalah salinan dari naskah asli yang diberkan kepada Van Rochussen pada tahun 1846 dan masih bisa dibaca di Deventer.

4

Javanese Histories of Dipanagara;
The Buku Kedung Kebo, its authorship and historical importance

Javanese Histories of Dipanagara; The *Buku Kedung Kebo*, its authorship and historical importance
Javanese Histories of Dipanagara; The *Buku Kedung Kebo*, its authorship and historical importance

As the Buku Kedung Kebo manuscript presents a very critical view of Diponegoro and his motives for fighting the Java War, Peter Carey’s 1974 article ‘Javanese Histories of Dipanagara; The Buku Kedung Kebo, its authorship and historical importance’, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 130.2/3:259-88, which discusses these aspects is included here.

Peter Carey has published his writings on the Buku Kedung Kebo, Purworejo, Cokronegoro and the Java War in an Indonesian-language book in Indonesia titled Sisi Lain Diponegoro: Babad Kedhung Kebo dan Historiografi Perang Jawa [A Different Side of Diponegoro: The Buku Kedung Kebo and the Historiography of the Java War] (Jakarta: KPG, 2017, second revised Ed 2018).

Naskah Buku Kedung Kebo memberikan sudut pandang yang kritis terhadap Diponegoro dan motivasinya dalam memecahkan Perang Jawa dan ini dibahas dengan panjang lebar dalam artikel karya Peter Carey pada tahun 1974, yang berjudul ‘Javanese Histories of Dipanagara; The Buku Kedung Kebo, its authorship and historical importance’, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 130.2/3:259-88, dan juga tersedia dalam set ini.

Peter Carey juga telah menerbitkan bukunya mengenai Buku Kedung Kebo, Purworejo, Cokronegoro, dan Perang Jawa dalam sebuah buku berbahasa Indonesia yang berjudul Sisi Lain Diponegoro: Babad Kedhung Kebo dan Historiografi Perang Jawa (Jakarta: KPG, 2017, edisi revisi kedua tahun 2018).

Buku Kedung Kebo GG Duymaer van Twist at the Athenaeum Library. Reverse.

One of the keys to Cokronegoro’s attitude to Diponegoro and the Java War can be found in the wayang (shadow-play) references where the Prince is compared to Prabu Suyudana, the brilliant but flawed Kurawa ruler, whose talents as a leader are undermined by his arrogance.

The significance of the wayang symbology can be identified clearly in the leather covers of the two oldest copies of Buku Kedung Kebo kept at the Leiden University Library (LOr 2163) and the Athenaeum Library (now City Library) in Deventer, Netherlands respectively.

Salah satu aspek dari sudut pandang Cokronegoro terhadap Diponegoro dan Perang Jawa bisa dilihat dari referensi wayang dimana Sang Pangeran disamakan dengan Prabu Suyudana, raja Kurawa yang cemerlang tapi yang mempunyai kekurangan yang fatal, dimana bakatnya sebagai seorang pemimpin menjadi sia-sia karena kesombongannya.

Makna penting perlambangan wayang yang digunakan terlihat jelas dari sampul kulit kedua naskah Buku Kedung Kebo tertua yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden (LOr 2163) dan Perpustakaan Athenaeum (sekarang Perpustakaan Kota) di Deventer, Belanda.

Buku Kedung Kebo GG Duymaer van Twist at the Athenaeum Library. Obverse.

Wayang characters were used as decorations on the front and back cover on both copies of the manuscripts. The right hand side of the cover on the Leiden manuscript depicts the dwarf Bima (Setyaki or Bimakunting) wielding a club, while to the left stands the Pandita (Resi) Durna, and the back cover depicts Suyudana and Baladewa. The same binary juxtapositions can be see in the Deventer copy of Buku Kedung Kebo: The front cover depicts Bima and Yudistira, while the back cover depicts Suyudana and Baladewa. The depictions of these wayang characters reflects the difference between the Pandawas (Bima, Yudistira) and the Kurawas (Suyudana, Baladewa, and Durna). All of this provide us with clues that Cokronegoro might have viewed the Java War in similar fashion as the final war in the Brothers’ War or Bharatayuda, an apocalyptic battle to the end between the Pandawas and Kurawas, in which, after a significant loss of life, the Kurawas were finally defeated.

Tokoh perwayangan digunakan untuk menghias sampul muka dan belakang kedua naskah ini. Pada sisi kanan sampul muka naskah yang dimiliki Leiden, terdapat gambar Bima memegang gada,sementara di sisi kirinya terdapat gambar Pandita (Resi) Durna, dan pada sampul belakangnya terdapat gambar Suyudana dan Baladewa. Demikian pula halnya dengan naskah Buku Kedung Kebo yang kini terdapat di Deventer: pada sampul depan terlihat gambar Bima dan Yudistira, sedangkan pada sampul belakang terpampang gambar Suyudana dan Baladewa. Susunan gambar tokoh-tokoh wayang tersebut memberikan petunjuk tentang pembedaan antara kaum Pandawa (Bima, Yudistira) dan golongan Kurawa (Suyudana, Baladewa, serta Durna). Hal ini dapat memberikan petunjuk kepada kita bahwa Cokronegoro mungkin sekali telah memandang Perang Jawa itu sama seperti yang terdapat dalam Serat Bharatayuda, suatu pertarungan apokaliptik akhir yang berlangsung di antara kaum Pandawa dan Kurawa, setelah kehilangan banyak korban jiwa, Kurawa akhirnya berhasil dikalahkan.

Bima Wayang Shadow Puppet
Bima Wayang Shadow Puppet

It is possible that Cokronegoro saw himself as Bima since in the Buku he compared himself with Raden Setyaki, who, in the wayang purwa, was also known under the name of Bimakunting (Dwarf Bima) due to his astonishing abilities. Another comparison can be made between the life of Cokronegoro and that of Raden Setyaki in the wayang story: Both left their respective birthplaces, where they were guaranteed prominent positions, to serve in a neighboring kingdoms. Cokronegoro departed Bagelen, where he was a descendent of a prominent village kyai or rural priyayi (kentol) family, namely the family of Raden Ngabehi Singowijoyo of high reputation and position, to serve in Surakarta; Meanwhile Raden Setyaki departed Lesanpura, where he was crown prince and heir of Prabu Setyajid, to become a young ksatriya in the palace of Prabu Kresna of Dwarawati. Thus, Cokronegoro and Setyaki respectively earned a reputation as ksatriya in their new capitals; Cokronegoro—at the time assuming the title Raden Tumenggung Resodiwirio— as a commander of Surakarta troops fighting Diponegoro in eastern Bagelen, while Raden Setyaki became one of the protagonists in the Bharatayuda. Both ever both bear similarities with their weapons of choice: Cokronegoro armed himself with an heirloom spear named Kyai Keré during the battles at Bagelen, and Raden Setyaki destroyed his opponents in Bharatayuda with his favorite weapon in the form of brass cudgel. As to Durna and Yudhistira, there are no direct references to these characters within the Buku Kedung Kebo, though it is quite possible that they represent the Dutch. In the wayang purwa, Bima’s mentor Durna is a very powerful and mysterious guru. However, Durna also seemed to have attempted to have his pupil killed when he sent him on an errand to discover the water of life at the bottom of the ocean. This search in essence reflected the peak of Bima’s spiritual power and abilities. It happened when he met Dewa Ruci to return with powerful spiritual endowments as Werkudara, the young Bima. It is possible that Cokronegoro saw Colonel Jan-Baptist Cleerens (1785-1850), who became the commander of Dutch troops stationed in eastern Bagelen, in the form of the wayang character Durna. Since under the tutelage and guidance of Colonel Cleerens, he was able to achieve the highest rank in his carreer when he was given the official position as Regent at Brengkelan (post-1831, Purworejo) after the end of the war. Meanwhile, the character Yudistira, depicted on the cover of the manuscript now kept in Deventer, was possibly intended by Cokronegoro as a compliment to Governor-General A. J. Duymaer van Twist (in office 1851-1856), who had received the Buku manuscript in 1852 when he was on his first tour (turné) to south-central Java. On the characters Baladewa and Suyudana appearing on the back of the leather cover of both the Leiden and Deventer copies of the manuscripts, both are clearly depictions of none other than the Sunan Pakubuwono VI (in power 1823-1830) and Prince Diponegoro himself. Prabu Baladewa, the king of Madura from the wayang tales, sympathized with the Kurawas’ cause. However, with his spiritual strength, which would have weighed heavily against the Pandawas in the Brothers’ War, Prabu Kresna sought to deceive Prabu Baladewa, and persuaded him to leave to meditate at Grojogan Sewu with the result that he was unable to participate in the Bharatayuda War. Thus, the similarities between Sunan Pakubuwono VI with Prabu Baladewa are clear: the young Surakarta king was sympathetic towards Prince Diponegoro’s cause, yet he was unable to partake in the Java War. Therefore, the Dutch were able to prevail.

Mungkin sekali Cokronegoro melihat dirinya sendiri sebagai Bima karena dalam Babad ia membandingkan dirinya dengan Raden Setyaki, yang dalam wayang purwa berhasil memenangkan nama Bimakunting (Bima yang kerdil) akibat kesaktiannya yang amat hebat. Sebuah perbandingan lain bisa dibuat antara perjalanan hidup Cokronegoro dan perjalanan hidup Raden Setyaki di dalam cerita wayang: kedua-duanya pernah meninggalkan negeri tempat kelahiran mereka, tempat mereka terjamin mendapatkan suatu kedudukan, untuk mengharumkan nama di sebuah kerajaan tetangga. Cokronegoro telah meninggalkan Bagelen, di mana ia sebenarnya adalah seorang keturunan keluarga kiai terkemuka atau priyayi desa (kentol), yaitu keluarga Raden Ngabehi Singowijoyo, yang mempunyai nama dan kedudukan yang terpandang, untuk mengabdi di Surakarta; sementara Raden Setyaki telah meninggalkan Lesanpura, di mana ia adalah putra mahkota Prabu Setyajid, untuk menjadi seorang kesatria muda di istana Prabu Kresna di kerajaan Dwarawati. Maka, Cokronegoro dan Setyaki masing-masing berhasil mendapatkan reputasi sebagai seorang kesatria di ibu kota baru mereka masing-masing; Cokronegoro— yang pada waktu itu bergelar Raden Tumenggung Resodiwirio—sebagai seorang komandan pasukan Surakarta yang bertempur melawan Diponegoro di daerah Bagelen, sementara Raden Setyaki sebagai salah satu tokoh ksatria utama dalam Bharatayuda. Bahkan senjata-senjata yang mereka gunakan mempunyai banyak persamaan: Cokronegoro mempersenjatai dirinya dengan tombak pusaka yang bernama Kiai Keré selama pertempuran di Bagelen, dan Raden Setyaki berhasil membinasakan banyak musuhnya dalam Bharatayuda dengan senjata favorit berupa gada yang terbuat dari kuningan. Adapun mengenai Durna dan Yudistira, tidak terdapat referensi langsung di Buku Kedung Kebo yang merujuk pada kedua tokoh ini. Tetapi kemungkinan besar mereka mewakili orang Belanda. Dalam perwayangan, Durna yang merupakan gurunya Bima adalah seorang tokoh yang sangat kuat serta penuh mistri. Tetapi Durna juga sepertinya berusaha untuk membunuh muridnya ketika ia mengirimnya dalam sebuah perjalanan yang penuh bahaya untuk menemukan air kehidupan di dasar samudera. Usaha pencarian ini pada hakikatnya mencerminkan puncak tertinggi dalam kekuasaan dan kemampuan spiritual Bima. Hal ini terjadi ketika ia berhasil bertemu dengan Dewa Ruci untuk kemudian pulang dengan membawa perlengkapan nama laki-lakinya, Werkudara. Ada kemungkinan besar bahwa Cokronegoro melihat Kolonel Jan-Baptist Cleerens (1785-1850), yang menjadi panglima pasukan Belanda di Bagelen, sebagai perwujudan tokoh Durna. Sebab di bawah tuntutan dan bimbingan Kolonel Cleerens, ia berhasil mencapai kedudukan tertinggi dalam kariernya waktu diangkat sebagai Bupati Brengkelan (pasca-1831, Purworejo) sesudah perang. Sedangkan tokoh Yudistira, yang penuh kebijaksanaan dan berbudaya, yang digambarkan di sampul muka naskah yang sekarang tersimpan di Deventer, mungkin sekali dimaksudkan oleh Cokronegoro sebagai suatu teladan untuk memuji Gubernur Jenderal A. J. Duymaer van Twist (menjabat 1851-1856), ahli hukum lulusan Leiden kelahiran Deventer itu, yang telah menerima naskah Babad itu pada 1852 waktu ia melakukan perjalanan inspeksi (turné) ke Jawa bagian tengah-selatan untuk pertama kalinya. Sedangkan tokoh Baladewa dan Suyudana yang muncul di sampul kulit belakang naskah Babad di Leiden dan Deventer, keduanya bisa dipastikan menggambarkan sosok yang tidak lain adalah Sunan Pakubuwono VI (bertakhta 1823-1830) dan Pangeran Diponegoro sendiri. Prabu Baladewa, raja Madura dalam cerita wayang, sangat bersimpati dengan perjuangan orang-orang Kurawa. Tetapi dengan kesaktiannya yang luar biasa, yang jika digunakan berperang dapat menghambat tercapainya tujuan perjuangan Pandawa, Prabu Kresna bersiasat untuk memperdaya Prabu Baladewa. Pada akhirnya, Prabu Baladewa pergi bersemadi di Grojogan Sewu sehingga ia tidak bisa mengambil bagian dalam Perang Bharatayuda. Jadi, persamaan Sunan Pakubuwono VI dengan Prabu Baladewa jelas: raja muda Surakarta itu merasa simpatis terhadap perjuangan Diponegoro, tetapi ia tidak bisa secara langsung ikut ambil bagian dalam Perang Jawa. Dengan demikian, Belanda bisa menjadi jawara.