Home » Hidup Katolik 5 September 1965

Hidup Katolik 5 September 1965

Selected reading

PANTJASILA DAN KOMUNIS II Pertanjaan P.A, di B, (15 — 5 — 1965) :

Dalam ruang tanja djawab H.K. 9 Mei terdapat perkataan mengenai- „Pantjasila dan Komunis”’, al. ,,Tafsiran Komunis tentang Pantjasila ber-beda? : Kadang² disebut alat pemersatu …………” Tapi pada Harian Rakjat 7 Mei mengenai Pantjasila dan garis umum repolusi al. dinjatakan : Kaum Komunistophobi memfitnah bahwa P.K.I. menerima Pantjasila hanja sebagai alat pemersatu. Tetapi P.K.I. telah mendjawab bahwa PKI menerima Pantjasila djustru sebagai alat pemersatu”.

Untuk djelasnja bersama ini saja lampirkan sekali guntingan dari Warta Bhakti jang berdjudul P.K.I, dan Pantjasila,

1, Apakah maksud P.KI, dengan hanja menjatakan bahwa mereka menerima Pantjasila djustru sebagai alat pemersatu ?

  1. Bukankah dengan penjataan tsb. djelaslah sudah sifat „Pantjasila munafik”,

Djawaban :

Ber-terang² sadja, kamj tidak melihat perbedaan jang njata antara dua kalimat ini: „Aku pergi berenang setiap minggun hanja untuk kesehatan” dan ,,aku berenang djustru untuk kesehatan”, Orang jang berkata, demikian sudah terang tidax- berenang terutama karena suka, olah raga, tapi kesehatanlah jang didahulukan dari pada olahraga atau pergaulan dengan teman? berenang itu. Mungkin sekali ia hanja berenang karena disuruh dokter atau orang tua.

Begitu pula misalnja seorang murid jang bersekolah djustru untuk mendapat idjazah, sebenarnjalah tidak mementingkan ilmu “atau pendidikan. Sekiranja idjazah itu dapat diperolehnja dengan itjara lain apapun djuga ia tidak akan perduli akan ilmu, pendidikan atau peladjaran.

Apabila, pihak Komunis mengeluarkan thesis 45 tahun P.K.I., jang menjatakan bahwa mereka menerima Pantjasila djustr karena sebagai alat pemersatu, haruslah kita hargai kemauan mereka, untuk tidak “mendjauhi dasar Negara kita, untuk menggalang persatuan jang mereka -— sebagai “kita semuanja — anggap sangat penting.

Itu bukanlah sifat munafik, Mereka me“nerima, sesuatu kenjaftaan bahwa Republik _ Indonesia berdasarkan Pantjasila, Itupun “bukan sifat munafik Namun kalau mereka “mengatakan pula baliwa PKI tidak mmendjadi revisionis 一- bukankah itu berarti bahwa mereka fetap berpegang pada dasar Marx dan Engels dan Lenin ? — maka ternjata pula bahwa~Pantjasila tidak mendjadi a ER baton mereka. sendi 18 9

を tetap materialis, Di Indonesia mereka tidak mau intoleran terhadap agama, Dan oleh karena itu boleh dan haruslah kita be. kerdja-sama, dengan mereka, dimana mungkin, Tetapi pada dasarnja bagi mereka te. tap berlaku anggapan Lenin jang ,,setjara mutlak menolak untuk menghubungkan sosialisme ilmiah dengan agama. Memang Komunisme dan agama tak ada persesuaian satu Sama lain. Apapun perhiasan agama, mereka tak bisa merobah sZatnja”, (Lapor. an M, Leonid Fiodoroviteh Ilitchev kepada CC Pleno P.K.U.S, 25 — 26 Nopember ’63) Dan menurut Engels »Kalau ajat? tertentu dari Indjil bisa ditafsirkan menurut paham Komunis, maka seluruh semangat dari adjarannja bertentangan dengan Komunisme”, Dan tidal: Gisangkal oleh pemimypin’ aliran itu kata Marx, bahwa agama ,,adaiah tiandu untuk :akjat’,

Partai: Politik Indonesia lainnja mnenerima Pantjasila bukan sebagai dasar dari negara dimana mereka kebetulan berada dan bergiat, tetapi sebagai dasar satu‘nja jang harus ada supaja negara dapat berdiri dan berkembang kearah adil dan makmur, untuk selama*nja, Dan mereka sadar bahwa ,»manusia jang tidak berTuhan bukanlah manusia” jang utuh ; dan bahwa, persatuan dari segala manusia jang bersama bernegara atau menegara itu (menurut istilah Prof, Dr, Drijarkoro) pasti akan bersatu, dj-kalau ber-sama: mengaku Tuhan jang Mahaesa, Mereka bersama dengan Presiden menempatkan keTuhanan JME sebagai jang paling utama dalam filsafah hidup” (Tubapi hal, 325) dimana hal ,,mengabdikan diri kepada Tanah Air dan bangsanj itu. disertai keharusan merasakan dri mengabdi pula kepada Tuhan, sebab Tuhan merupakan asal dan achir kedjadian” (amanat Presiden dikutip oleh Sinar Harapan 31 — 7 — 1964), 、

Munafik dalam hal ini berarti bahwa seseorang mengatakan pertjaja kepada Tuhan sebagai dasar kehidupannja sendiri, pada hal itu tjuma omongan sadja ; tidak sesuai dengan kejakinannja, Namun kami mengulangi tulisan kami tg, 9-5-’65 dalam H.K. „Kami tidak mengingat pernah memebatja utjapan tokoh? P.K.I, bahwa menerima adanja Tuhan jang Mahsesa”,

Singkatnja : Hendaklah saudara hati² dalam menjebut seseorang munafik, Adjaran materialisme dialektis ,,ilmijah” tetap tidak mentjantum kepertjajaan kepada Allah, tetapi ,mereka jang tidak pertjaja kepada Tuhan-pun mengakui bahwa kepertjajaan _ _kepada Jang Maha Kuasa merupakan karakteristik dari bangsanja, sehingga mereka menerima, Sila pertama ini” (Presiden da-